Demo "No Kings" meledak di berbagai kota di AS. (foto: Press TV)
FAJAR.CO.ID,JAKARTA -- Kekompokan saat ini ditunjukan oleh warga Amerika Serikat (AS) yang memberikan protes keras ke Presiden Donald Trump.
Jutaan warga Amerika turun ke jalan dalam gelombang ketiga aksi nasional “No Kings” pada Sabtu, 28 Maret.
Sampai hari ini, Minggu 29 Maret dilansir dari Xinhua disebutkan unjuk rasa ini menyasar dua isu yang kini sedang memanaskan politik dalam negeri Amerika Serikat.
Mulai dari kebijakan imigrasi yang keras dan perang yang sedang berlangsung dengan Iran.
Diperkirakan ada 3.100 aksi digelar di berbagai kota, termasuk Washington D.C., New York, Boston, Los Angeles, dan San Francisco.
Sejumlah media AS memperkirakan aksi itu melibatkan sekitar 900.000 orang, menjadikannya unjuk rasa satu hari terbesar yang pernah tercatat.
Penyelenggara menyebut dua gelombang sebelumnya juga menyedot massa besar, masing-masing lebih dari 5 juta orang pada Juni dan 7 juta orang pada Oktober 2025.
Yang terbesar disebut terlihat di Capitol Negara Bagian Minnesota di Saint Paul. Penyelenggara menyebut hampir 100.000 orang hadir dalam cuaca dingin.
Kritikan Keras ke Kebijakan Perang AS
Senator independen Bernie Sanders, yang menjadi pembicara utama di Saint Paul, menyerang keras kebijakan perang AS.
Ia mengatakan warga Amerika pernah dibohongi soal perang Vietnam dan Irak, dan kini kembali dibohongi soal Iran.
“Perang ini harus segera dihentikan,” katanya seperti ditulis Xin Hua.
Orang Penting Hingga Aktor yang juga Turun ke Jalan
Tak sampai disitu, Gubernur Minnesota Tim Walz juga menuntut keadilan bagi Renee Good dan Alex Pretti, dua korban tewas dalam insiden Januari yang dikaitkan dengan ICE.
















































