Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM) Tiyo Ardianto
FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Dugaan teror yang dialami Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, usai mengkritik program Makan Bergizi Gratis (MBG) Presiden Prabowo Subianto terus menuai respons.
Dorong Ketua BEM UGM Lapor Polisi
Kali ini, kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Dedy Nur, turut angkat suara.
Ia menegaskan, jika benar terjadi teror dan memiliki bukti, langkah yang tepat adalah melapor secara resmi ke aparat penegak hukum.
“Kalau ada yang meneror Anda dan Anda punya buktinya, maka cara paling waras adalah bikin laporan resmi ke kantor polisi,” ujar Dedy dikutip fajar.co.id melalui cuitannya di X (21/2/2026).
Dikatakan Dedy, Indonesia merupakan negara hukum sehingga setiap dugaan tindak pidana seharusnya diproses melalui jalur hukum, bukan sekadar disampaikan di media sosial.
“Karena Anda ini hidup dalam negara Hukum bernama Indonesia,” lanjutnya.
Klaim Blak-blakan di Medsos Bukan Cara Efektif Cari Keadilan
Dedy juga menganggap pelaporan melalui media sosial bukanlah langkah yang efektif untuk mencari keadilan.
“Kalau laporannya ke media sosial biar dapat perhatian sebenarnya salah alamat, karena orang-orang di media sosial ini sudah sibuk dengan dirinya masing-masing,” tukasnya.
Ia bahkan menyebut respons Istana yang terkesan biasa saja merupakan hal yang wajar.
“Wajar saja jika respon Istana juga biasa saja, karena tau bahwa anak ini sebenarnya sedang cari panggung dengan meminjam cerita ‘terror’,” Dedy menuturkan.
Tidak berhenti di situ, Dedy bilang bahwa kapasitas intelektual mahasiswa jika hanya mengandalkan narasi akan terlihat suram.
“Kalau kecerdasan mahasiswa hanya sampai di sini, maka alamat masa depan anak ini jelas akan sangat zuram,” kuncinya.
Sebelumnya, kejadian kurang mengenakan dialami oleh Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto.
Tiyo Ardianto mengaku mendapat teror setelah menyuarakan kasus anak bnh d*ri di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Teror yang dialaminya ini disebutnya sudah berlangsung dalam beberapa hari. Mulai dari 9-11 Februari lalu.
Teror-teror yang didapatkan oleh Tiyo itu berupa bentuk intimidasi, mulai dari ancaman melalui pesan singkat hingga dugaan penguntitan oleh orang tak dikenal.
“Saya mendapat pesan dari nomor tidak dikenal yang mengancam mau menculik,” ujar Tiyo dikutip Jumat (13/2).
Alami Penguntitan
Dalam teror yang didapatkannya, Tiyo menyebut dirinya mengaku sempat mengalami penguntitan pada Rabu (11/2/2026) saat berada di sebuah kedai.
Menurutnya, dua pria tak dikenal dengan postur tubuh tegap terlihat memotret dirinya dari jarak jauh.
“Yang menguntit dan memotret dari jauh dua orang laki-laki dewasa. Tubuhnya tegap dan masih relatif muda,” tuturnya.
Setelah dikuntit beberapa lama oleh pihak yang tidak dikenal, ia mengaku coba mengejar orang-orang tersebut.
Hanya saja, dalam upaya pengejaran yang dilakukannya ini gagal usai dua orang yang mengikutinya itu disebut menghilang.
Penyebab Teror yang Dialami
Ketua BEM UGM itu mengungkap apa yang sebenarnya jadi alasan dirinya mendapatkan berbagai bentuk intimidasi ini.
Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
















































