Sejumlah wilayah di Spanyol dibombardir Israel saat gencatan senjata berlangsung.
Oleh: Ridwan al-Makassary*
Dunia berterima kasih kepada Pakistan sebagai mediator (kurir?) perdamaian ketika gencatan senjata terjadi antara Iran dan Amerika Serikat, dua jam sebelum tenggat penghancuran peradaban Iran dalam semalam dilaksanakan pada 7 April 2026 (waktu setempat).
Namun, pada hari pertama gencatan senjata, Israel telah membombardir Lebanon selama 10 menit dengan lebih dari 100 target sasaran. Paling tidak, 254 orang meregang nyawa. Mengapa Israel menyerang Israel pada hari pertama gencata senjata? Tulisan ini mencoba mengulik persoalan tersebut.
Gencatan senjata, sejatinya, menjadi jeda reflektif, sebagai ruang yang steril dari dentuman, dan juga ruang untuk merumuskan perdamaian yang bisa disepakati para pihak yang bertikai.
Namun, dalam perang Iran 2026, gencatan senjata justru lahir sebagai ilusi perdamaian, yaitu tenang di atas kertas, tetapi berisik di medan tempur. Ia diumumkan sebagai harapan, tetapi sejak awal mengandung benih kegagalan yang nyaris tak terhindarkan.
Penyebabnya sederhana, tetapi fatal, yaitu Lebanon tidak pernah benar-benar masuk dalam perjanjian, menurut Israel dan Amerika Serikat. Dan, itu menjadi alasan Israel menggempur Lebanon. Sementara Pakistan bersikukuh bahwa Lebanon termasuk dalam perjanjian tersebut. Iran sendiri merespon dengan menutup selat Hormuz dan akan melanjutkan perang.
Di atas meja diplomasi, kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran dirancang sebagai langkah de-eskalasi. Dua minggu jeda bekerja untuk meredakan ketegangan yang telah membawa kawasan ke ambang kehancuran dan melumatkan kemanusiaan.

















































