Ilustrasi piala Dunia. (AI)
FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Kontroversi besar mewarnai persiapan Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat setelah muncul usulan kontroversial yang mewajibkan penggemar sepak bola dari beberapa negara Afrika untuk membayar deposit sebesar $15.000 agar bisa memasuki AS selama turnamen berlangsung.
Usulan Deposit $15.000 Memicu Gelombang Penolakan
Menurut laporan The Athletic, penggemar dari Senegal, Tanjung Verde, Pantai Gading, dan Tunisia harus menyetor uang tersebut sebagai jaminan agar tidak tinggal secara ilegal setelah turnamen berakhir. Langkah ini diusulkan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump sebagai upaya mengendalikan imigrasi ilegal pasca acara.
Namun, usulan ini langsung mendapat penentangan luas dari komunitas penggemar sepak bola global. Banyak pihak menilai kebijakan tersebut sebagai hambatan finansial yang sangat berat dan bertentangan dengan nilai keterbukaan serta inklusivitas yang selama ini melekat pada Piala Dunia.
Reaksi dan Kritik dari Media Sosial
Jagad media sosial, khususnya platform X, ramai dengan komentar yang menyebut kebijakan ini sebagai "bentuk diskriminasi baru" karena hanya negara-negara tertentu yang dikenai aturan khusus tersebut. Mereka mempertanyakan keadilan dan kesetaraan dalam perlakuan terhadap penggemar dari berbagai negara.
Bagi banyak penggemar, beban membeli tiket, biaya perjalanan, dan akomodasi sudah cukup berat. Dengan adanya deposit sebesar $15.000, mendukung tim favorit di Piala Dunia bisa menjadi hak istimewa yang hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang saja.
Boikot dan Skeptisisme atas Efektivitas Kebijakan
Usulan ini juga memicu wacana boikot dari beberapa kalangan yang menilai negara-negara terdampak perlu mengambil tindakan tegas sebagai respons terhadap kebijakan tersebut. Namun, ada pula skeptisisme terkait efektivitas langkah ini, apakah benar-benar sebagai kontrol imigrasi atau justru menjadi pembatasan tidak langsung terhadap penonton.


















































