DPR RI Soroti Urgensi Anggaran Teknologi Modifikasi Cuaca BMKG, Sudjatmiko: Air Hujan Jadi Bencana Karena Salah Kelola Tata Ruang

13 hours ago 5
Anggota Komisi V DPR RI, Sudjatmiko (dok: PKB)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Rentetan bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, hingga angin kencang yang melanda berbagai wilayah Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menjadi alarm keras bagi ketahanan nasional. Menanggapi situasi krisis iklim yang kian memburuk, penguatan anggaran Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kini menjadi prioritas mendesak, terutama untuk pengadaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC).

Dukungan tersebut ditegaskan oleh Anggota Komisi V DPR RI, Sudjatmiko. Ia menilai peningkatan kapasitas BMKG bukan lagi sekadar pilihan kebijakan, melainkan langkah vital untuk menyelamatkan masyarakat dari ancaman cuaca ekstrem yang semakin sulit diprediksi.

“Curah hujan ekstrem sudah berulang kali memicu bencana hidrometeorologi, mulai dari banjir besar, longsor, angin kencang, hingga suhu ekstrem. TMC terbukti efektif karena mampu menurunkan intensitas curah hujan hingga sekitar 30 persen,” ujar Sudjatmiko di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (10/2/2026).

Urgensi Teknologi di Tengah Ribuan Bencana

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat angka yang mengkhawatirkan. Sepanjang tahun 2025, terjadi 2.590 kejadian bencana di Indonesia, di mana 90 persen di antaranya merupakan bencana hidrometeorologi. Fenomena ini mencerminkan besarnya ancaman yang berasal dari dinamika cuaca dan iklim di tanah air.

Sudjatmiko mencontohkan, wilayah padat penduduk seperti Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah telah membuktikan efektivitas TMC dalam mengantisipasi curah hujan harian di atas 150 milimeter. Tanpa intervensi teknologi, curah hujan setinggi itu akan melampaui kapasitas sistem drainase perkotaan dan berujung pada lumpuhnya aktivitas ekonomi akibat banjir besar.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

Read Entire Article
Situasi Pemerintah | | | |