Iran Tegaskan Kesiapan Hadapi Armada Militer Asing di Asia Barat Sambil Jalani Negosiasi Nuklir

9 hours ago 5
Komandan Angkatan Laut Iran, Laksamana Muda Shahram Irani - mehr news agency

FAJAR.CO.ID, TEHERAN - Komandan Angkatan Laut Iran, Laksamana Muda Shahram Irani, menegaskan kesiapan Iran menghadapi setiap demonstrasi kekuatan asing di Asia Barat, terutama kehadiran armada militer ekstra-regional yang dianggap tidak dapat dibenarkan. Pernyataan ini disampaikan menjelang perjalanan Irani ke India untuk mengikuti sejumlah acara maritim utama, sekaligus di tengah ketegangan militer dan diplomasi nuklir yang berlangsung di kawasan tersebut.

"Kehadiran armada ekstra-regional di Asia Barat tidak dapat dibenarkan," jelas Laksamana Irani kepada wartawan sebelum berangkat ke India. Ia menambahkan, "Jika armada-armada ini memasuki kawasan tersebut dengan mengandalkan kekuatan militer, mereka harus tahu bahwa rakyat Iran akan menghadapi mereka dengan kekuatan yang lebih besar."

Agenda Maritim dan Latihan Militer Bersama

Dalam kunjungannya ke India, Irani akan berpartisipasi dalam tiga acara maritim besar bulan ini, yakni Simposium Angkatan Laut Samudra Hindia (IONS), latihan angkatan laut "Milan 2026", serta Tinjauan Armada Internasional (IFR). Kegiatan ini bertujuan memperkuat kerja sama maritim di antara negara-negara pesisir Samudra Hindia dan membahas isu-isu keamanan maritim secara kolektif.

Sementara itu, Angkatan Laut Iran dan Rusia dijadwalkan menggelar latihan gabungan di Laut Oman dan Samudra Hindia bagian utara. Latihan ini merupakan upaya meningkatkan keamanan maritim dan memperdalam koordinasi militer antara kedua negara di jalur perairan strategis yang menghubungkan Teluk dengan Samudra Hindia.

Latihan Militer dan Ketegangan di Selat Hormuz

Latihan militer yang bertepatan dengan penutupan sementara Selat Hormuz oleh Iran selama beberapa jam pada Selasa lalu menunjukkan fokus berkelanjutan Teheran dalam mengamankan koridor maritim utama tersebut. Latihan yang dinamakan "Kontrol Cerdas di Selat Hormuz" ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan kesiapan operasional di salah satu jalur perairan paling strategis di dunia.

Langkah ini terjadi di tengah kehadiran angkatan laut Amerika Serikat yang cukup besar di kawasan, termasuk pengerahan kelompok serang kapal induk dan pengiriman kapal induk USS Gerald R. Ford ke arah Asia Barat. Ketegangan ini menjadi latar belakang penting bagi pernyataan tegas dari komandan angkatan laut Iran.

Negosiasi Nuklir Iran-AS di Tengah Ketegangan Militer

Di sisi lain, Iran dan Amerika Serikat tengah menyelesaikan putaran kedua negosiasi tidak langsung di Jenewa yang berfokus pada isu nuklir Teheran dan pencabutan sanksi. Putaran pertama pembicaraan berlangsung pada 6 Februari di Muscat, sedangkan putaran kedua digelar di Kedutaan Besar Kesultanan Oman di Jenewa, Swiss.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menilai diskusi kali ini lebih konstruktif dibandingkan putaran sebelumnya dan berhasil mencapai kesepakatan luas mengenai prinsip-prinsip panduan untuk melanjutkan pembicaraan. "Pada akhirnya, kami mampu mencapai kesepakatan luas mengenai serangkaian prinsip panduan, berdasarkan prinsip-prinsip tersebut kami akan bergerak maju dan mulai mengerjakan teks perjanjian potensial," katanya kepada televisi pemerintah.

Namun, dari Washington, Wakil Presiden AS JD Vance menyampaikan sikap yang lebih hati-hati. Ia mengakui kemajuan pembicaraan namun menegaskan bahwa Iran belum menerima semua tuntutan Amerika Serikat. "Dalam beberapa hal, semuanya berjalan dengan baik; mereka setuju untuk bertemu setelahnya," kata Vance dalam wawancara dengan Fox News. "Tetapi dalam hal lain, sangat jelas bahwa presiden telah menetapkan beberapa garis merah yang belum bersedia diakui dan diatasi oleh Iran."

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

Read Entire Article
Situasi Pemerintah | | | |