Ronnie Rusli
FAJAR.CO.ID - Ekonomi Indonesia tengah menghadapi risiko resesi yang serius, terutama karena ketergantungan besar pada bahan bakar minyak (BBM) impor. Hal ini diungkapkan oleh Guru Besar Universitas Indonesia, Ronnie Rusli, yang menyoroti dampak struktural dari ketergantungan energi fosil terhadap perekonomian nasional.
Ketergantungan BBM Impor Jadi Ancaman Serius
Ronnie Rusli menjelaskan bahwa sistem transportasi nasional yang menjadi tulang punggung distribusi di Indonesia sangat bergantung pada BBM. Transportasi darat, laut, dan udara, yang mencakup truk, bus, kapal barang, serta pesawat penumpang dan barang, semuanya memerlukan pasokan BBM yang sebagian besar berasal dari impor.
"Ekonomi Indonesia sudah di ambang kehancuran, karena basis ekonomi kita adalah transportasi tiga pilar yaitu darat (truk, bus, mobil), laut (kapal barang dan pasukan), dan udara (pesawat penumpang dan barang yang sangat penting perlu cepat tiba termasuk pasukan/TNI). Ini semua perlu BBM," katanya saat mengunggah pendapatnya di platform X pada Selasa, 10 Maret 2026.
Risiko Geopolitik dan Dampak Global
Lebih jauh, Ronnie menyoroti potensi eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, khususnya perang antara Iran dan Israel, yang berpotensi melibatkan kekuatan besar seperti Amerika Serikat, Rusia, dan China. Konflik ini dapat memicu lonjakan harga minyak dunia yang akan memperparah tekanan pada negara-negara pengimpor energi seperti Indonesia.
"Perang Iran-Israel pasti Amerika turun tangan dan akan diikuti Rusia-China (di belakang Iran)," jelasnya.
Dampak Langsung pada Ekonomi Nasional
Kenaikan harga minyak dunia akibat konflik tersebut berisiko meningkatkan biaya logistik dan transportasi, menambah beban subsidi energi pemerintah, serta memicu inflasi yang pada akhirnya melemahkan daya beli masyarakat. Sektor industri dan perdagangan yang bergantung pada distribusi logistik nasional juga akan terdampak signifikan.
















































