Ki Darmaningtyas
FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Pernyataan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, soal penempatan perempuan di gerbong tengah kereta masih terus menuai perdebatan publik.
Namun, kritikus pendidikan dan transportasi Darmaningtyas justru melihat pernyataan tersebut dari sudut pandang berbeda. Ia menilai sang menteri tidak perlu meminta maaf.
Bilang Arifah Sudah Sesuai Tupoksi
Dikatakan Darmaningtyas, sikap Arifah Fauzi sudah sejalan dengan tugas pokok dan fungsinya sebagai menteri yang bertanggung jawab terhadap perlindungan perempuan dan anak.
“Sebetulnya bu Menteri PPPA tidak perlu minta maaf atas pernyataannya terhadap gerbang perempuan," ujar Darmaningtyas dikutip fajar.co.id, Kamis (30/2/2026).
“Karena ibu itu Menteri yang bertugas memberikan perlindungan kepada perempuan dan anak," tambahnya.
Lanjut dia, kritik publik merupakan hal yang wajar, namun tidak seharusnya mengaburkan konteks kebijakan yang diusulkan.
“Bu Menteri bersikap sesuai tupoksinya. Biarkan saja netizen berkomentar, tapi tupoksi Ibu memang itu," tukasnya.
Posisi Gerbong Jadi Perhatian
Darmaningtyas mengaku telah lama mempertanyakan kebijakan penempatan gerbong khusus perempuan yang berada di bagian depan atau belakang rangkaian kereta.
Baginya, dari sisi keselamatan, posisi tersebut justru berisiko lebih tinggi.
“Sebetulnya sejak lama saya sendiri udah mempertanyakan, kenapa gerbang perempuan itu mesti di ujung depan n ujung belakang?," timpalnya.
Ia menyinggung pengalaman panjang terkait kecelakaan kereta api, di mana bagian depan dan belakang sering kali menjadi titik paling terdampak.


















































