“Buruh: Tulang Punggung yang Dipunggungi?”

10 hours ago 16
Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran

Oleh: Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran

“Bukan hanya merayakan Hari Buruh—ini pengingat bahwa keadilan belum juga sepenuhnya hadir.”

Indonesia hari ini bukanlah negeri tanpa kerja. Data menunjukkan sekitar 145–146 juta orang bekerja, sementara tingkat pengangguran terbuka berada di kisaran 4,7–4,8 persen pada 2025. Angka yang secara makro tampak “terkendali”. Namun di balik stabilitas itu, ada kenyataan yang lebih dalam bahwa bekerja tidak selalu berarti sejahtera.

Rata-rata upah buruh Indonesia pada 2025 berada di sekitar Rp3,3 juta per bulan. Angka ini sering disebut sebagai indikator kemajuan. Tapi angka, seperti cermin retak, hanya memantulkan sebagian wajah realitas. Sebab di banyak sektor, upah bahkan berada di bawah angka tersebut—misalnya sektor jasa tertentu yang hanya sekitar Rp1,9 juta per bulan.

Di titik inilah paradoks itu berdiri berupa pertumbuhan ada, tetapi kesejahteraan terasa jauh.

Ketimpangan bukan sekadar antar sektor, tetapi juga antar ruang dan identitas. Hanya sebagian provinsi yang rata-rata upah buruhnya melampaui upah minimum. Sebagian besar lainnya masih tertatih di bawah standar hidup layak. Bahkan, buruh perempuan dalam banyak kasus lebih rentan menerima upah di bawah standar dibandingkan laki-laki.

Buruh, bukan sekadar kategori ekonomi. Ia adalah manusia yang berdiri di persimpangan antara harapan dan kebutuhan.

Kita menyaksikan transformasi ekonomi dalam digitalisasi, industrialisasi, bahkan otomasi yang menjanjikan efisiensi. Namun pertanyaan mendasarnya tetap sama. Efisiensi untuk siapa? Jika produktivitas meningkat tetapi upah stagnan, maka kemajuan itu seperti jalan tol yang hanya bisa dilalui sebagian orang, sementara yang lain tetap berjalan kaki di pinggirnya.

Read Entire Article
Situasi Pemerintah | | | |