FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Kematian siswa SD kelas IV di Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi ironi saat Indonesia mau menyumbang Rp16,7 triliun ke Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP) bentukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Bocah berinisial YBS itu mengakhiri hidup diduga karena tak mampu beli buku dan pena untuk kebutuhan sekolahnya.
Peristiwa tragis ini Peristiwa ini mengguncang nurani publik dan memunculkan pertanyaan besar: sejauh mana negara benar-benar hadir bagi warganya yang paling rentan?
Pengamat politik Rocky Gerung menilai tragedi tersebut bukan sekadar persoalan keluarga atau kemiskinan individual, melainkan cermin kegagalan kebijakan negara.
Rocky pun menyampaikan kritikannya kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang bergabung dalam Board of Peace atau Dewan Perdamaian. Lembaga ini bentukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang diklaim bertujuan mendukung perdamaian Palestina.
Tetapi di sisi lain, ada anak-anak yang menjadi tanggungan negara, justru tidak terjamin pendidikannya. Bahkan, sekadar membeli buku dan pena yang harganya hanya sekitar Rp10 ribu pun tak terpenuhi kebutuhannya.
Rocky mempertanyakan keputusan Indonesia yang harus membayar iuran sekitar Rp16,7 triliun untuk bergabung dalam lembaga tersebut.
“Kenapa Pak Prabowo nyumbang ke lembaga yang dibuat dan diarahkan sendiri oleh Donald Trump? Kenapa Rp16 triliun itu harus disumbangkan ke sana?” ujarnya dalam acara Inaugurasi 2025 Universitas Sangga Buana YPKP, Bandung, Kamis (29/1/2026).
Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
















































