Ilustrasi Idulfitri
FAJAR.CO.ID - Menjelang perayaan Idulfitri dan ibadah Nyepi yang berdekatan waktunya, pemerintah dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau umat Islam untuk menjaga toleransi dan menghormati keberagaman ibadah di Indonesia.
Hal ini penting agar suasana damai dan persatuan tetap terjaga di tengah perbedaan pelaksanaan Idulfitri dan perayaan Nyepi yang dilakukan oleh umat Hindu.
Wakil Ketua Umum MUI, Cholil Nafis, menegaskan bahwa umat Muslim khususnya yang tinggal di wilayah Bali harus memberikan ruang yang sama bagi umat Hindu untuk melaksanakan Nyepi tanpa gangguan. Ia mengingatkan agar takbir Idulfitri tidak menggunakan pengeras suara berlebihan agar tidak mengganggu ketenangan ibadah Nyepi.
"Kita harus memberikan ruang yang sama untuk merayakan dan melaksanakan ibadah. Bagi saudara-saudara yang melakukan Nyepi, kita Muslim tidak boleh mengganggu," kata Cholil Nafis saat ditemui di Jakarta, Kamis.
Lebih lanjut, Cholil Nafis menambahkan, "Demikian juga teman-teman kita yang mau takbir, ya takbir, tapi tidak bagi pengeras yang besar, sehingga tidak mengganggu saudara-saudara kita yang sedang melakukan Nyepi."
Di sisi lain, Menteri Agama RI Nasaruddin Umar mengimbau seluruh masyarakat Indonesia untuk tetap menjunjung tinggi semangat kebersamaan dan persatuan meskipun terdapat perbedaan penetapan tanggal Idulfitri 1447 Hijriah.
Pemerintah resmi menetapkan 1 Syawal jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026, sedangkan beberapa kelompok seperti Muhammadiyah menetapkan Jumat, 20 Maret 2026.
"Alhamdulillah, inilah hasil maksimum yang bisa kita capai dan kepada mereka yang berbeda dengan keputusan pemerintah atau ketetapan Sidang Isbat ini, jangan ada jarak di antara kita satu sama lain. Teman-teman kita itu adalah sebagai sesama warga bangsa, sesama umat Islam," jelas Menag Nasaruddin Umar dalam Konferensi Pers Sidang Isbat di Kantor Kemenag, Jakarta.

















































