Program MBG
FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Pegiat media sosial, Eko Kuntadhi, bicara mengenai potensi dampak ekonomi global jika konflik yang melibatkan Israel-Amerika Serikat dengan Iran terus memanas.
Dikatakan Eko, situasi tersebut bisa berimbas langsung pada kondisi ekonomi Indonesia, mulai dari nilai tukar rupiah hingga tekanan pada anggaran negara.
Dampak Ekonomi Global
Eko menganggap eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia.
Jika harga minyak tembus hingga USD 100 per barel, dampaknya bisa terasa pada berbagai sektor ekonomi.
Sebagai gambaran, asumsi harga minyak dalam perencanaan APBN biasanya berada di kisaran USD 75-85 per barel, sehingga lonjakan di atas angka tersebut dapat menekan fiskal negara.
Menurut Eko, kondisi tersebut juga bisa memicu pelemahan nilai tukar rupiah serta tekanan terhadap industri.
“Rupiah babak belur. Minyak melonjak sampai USD 100 per barel,” ujar Eko dikutip fajar.co.id, Selasa (10/3/2026).
Ingatkan Potensi Tekanan APBN
Ia juga menyinggung kemungkinan dampak lanjutan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Kenaikan harga energi, menurutnya, dapat memperlebar defisit anggaran serta membebani pemerintah.
“APBN jebol. Dunia industri megap-megap. Pemerintah harus nutup defisit yang melebar," cetusnya.
Usul Moratorium Program Besar
Dalam pandangannya, pemerintah perlu mempertimbangkan ulang program-program yang membutuhkan anggaran besar jika tekanan ekonomi global semakin meningkat.
“Perlu dipikirkan moratorium program yang makan anggaran besar, kayak MBG, KMP, atau program populis lainnya. Setidaknya, kurangi," tandasnya.
















































