Lele Mentah Jadi Menu MBG di Pamekasan
FAJAR.CO.ID - Sebanyak 1.022 porsi menu lele mentah dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMA Negeri 2 Pamekasan, Jawa Timur, ditolak oleh pihak sekolah karena dinilai tidak layak konsumsi.
Insiden ini memicu sorotan tajam terhadap tata kelola dan sistem distribusi makanan dalam program tersebut yang seharusnya meningkatkan gizi anak sekolah melalui penyediaan makanan siap santap yang sehat dan aman.
Sistem MBG Dinilai Gagal Menjamin Kualitas Makanan
Kepala Bidang Advokasi Guru dari Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G), Iman Zanatul Haeri, menegaskan bahwa seluruh pihak di lapangan—mulai dari pegawai pengantar MBG, sekolah, guru, hingga siswa—semuanya menjadi korban dari sistem yang buruk dalam pelaksanaan program ini.
"Jujur saja, baik pegawai SPPG yang (kebagian sial) mengantar MBG ini, serta sekolah, guru dan siswa, sama-sama korban dari sistem yang buruk ini," katanya dalam unggahan di platform X pada 9 Maret 2026 menanggapi laporan kasus tersebut.
Iman mempertanyakan bagaimana mungkin lele mentah bisa sampai menjadi menu MBG, yang seharusnya menyediakan makanan siap konsumsi.
"Bagaimana bisa lele mentah sampai menjadi menu MBG? Pastinya ada kekacauan di balik itu semua," jelasnya.
Evaluasi Menyeluruh Sistem Distribusi dan Pengawasan
Lebih lanjut, Iman menegaskan bahwa persoalan ini bukan hanya soal kualitas makanan yang diterima sekolah, tetapi juga tata kelola program secara keseluruhan. Ia menilai sangat tidak masuk akal jika bahan makanan mentah dikirim ke sekolah dengan harapan bisa diterima begitu saja.
"Karena berharap MBG lele mentah itu diterima sekolah tanpa masalah. Ini melukai akal sehat," bebernya.

















































