Mengapa Awal Ramadan Bisa Berbeda? Ini Penjelasan Lengkap Hisab, Rukyat, dan Sidang Isbat

13 hours ago 9
Ramadan (Ilustrasi/AI)

FAJAR.CO.ID — Menjelang bulan suci, pertanyaan yang hampir selalu muncul adalah: mengapa awal Ramadan bisa berbeda? Di Indonesia, perbedaan penetapan 1 Ramadan bukan hal baru. Sebagian umat memulai puasa lebih dulu, sementara yang lain menunggu pengumuman resmi pemerintah.

Perbedaan ini bukan karena kekeliruan, melainkan karena adanya perbedaan metode penentuan awal bulan hijriah: hisab dan rukyat, serta mekanisme resmi melalui Kementerian Agama Republik Indonesia.

Artikel ini akan menjelaskan secara lengkap dan mudah dipahami agar Anda tidak lagi bingung ketika terjadi perbedaan awal puasa.

Apa Itu Hisab dalam Penentuan Awal Ramadan?

Hisab adalah metode perhitungan astronomi untuk menentukan posisi bulan secara matematis. Dengan bantuan ilmu falak modern dan data astronomi, posisi hilal (bulan sabit pertama) dapat dihitung dengan presisi tinggi bahkan jauh sebelum tanggal pengamatan.

Metode ini digunakan oleh sejumlah organisasi Islam, termasuk Muhammadiyah, yang menetapkan awal bulan hijriah berdasarkan kriteria tertentu, seperti tinggi bulan dan posisi geometrisnya terhadap matahari.

Kelebihan Metode Hisab

  • Bisa diketahui jauh hari sebelumnya
  • Tidak bergantung pada kondisi cuaca
  • Konsisten dan terukur secara ilmiah
  • Memudahkan penyusunan kalender tahunan

Karena berbasis perhitungan, hasil hisab bersifat pasti secara matematis. Namun, sebagian kalangan tetap mengombinasikannya dengan rukyat sebagai bentuk kehati-hatian syariat.

Apa Itu Rukyat dan Bagaimana Prosesnya?

Rukyat adalah metode melihat langsung hilal pada tanggal 29 bulan berjalan setelah matahari terbenam. Jika hilal terlihat, maka malam itu sudah masuk bulan baru.

Metode ini digunakan secara luas, termasuk oleh Nahdlatul Ulama, yang menggabungkan rukyat dengan data hisab sebagai panduan awal.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

Read Entire Article
Situasi Pemerintah | | | |