Ilustrasi. (AI)
FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Industri perbankan Indonesia menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global yang terus berkembang. Namun, berbagai strategi mitigasi risiko harus segera diterapkan untuk menjaga stabilitas sektor keuangan dan memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan ke depan.
Fundamental Perbankan Nasional Masih Kuat
Ketua Umum PERBANAS sekaligus Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menjelaskan bahwa hingga awal 2026, kondisi fundamental industri perbankan nasional masih solid. Pertumbuhan kredit pada Januari 2026 mencapai 9,96% secara tahunan, meningkat dari 9,63% di tahun sebelumnya. Dana Pihak Ketiga (DPK) juga tumbuh 10,8% YoY, sementara rasio kredit bermasalah (NPL) tetap terjaga di kisaran 2,14%. Selain itu, Capital Adequacy Ratio (CAR) berada pada level kuat sekitar 25,9%.
"Beberapa indikator profitabilitas menghadapi tekanan moderat seiring meningkatnya biaya operasional. Namun demikian, perbankan tetap perlu waspada. Walaupun outlook industri perbankan secara umum masih cukup baik, tapi kita harus tetap antisipatif terhadap berbagai potensi risiko ke depan," jelas Hery Gunardi saat forum CFO PERBANAS di Jakarta, Jumat (6/3/2026).
Ancaman Global dan Risiko Kredit yang Meningkat
Hery menegaskan bahwa ketegangan geopolitik global yang berkepanjangan berpotensi mendorong inflasi energi dan harga pangan, yang pada gilirannya menekan daya beli masyarakat dan memperlambat aktivitas ekonomi nasional. Kondisi ini juga menekan kinerja sektor usaha sehingga berpotensi meningkatkan risiko kredit bermasalah.
"Ini menuntut perbankan untuk lebih selektif dalam penyaluran kredit serta memperkuat pengelolaan risiko dan kualitas aset," katanya menambahkan.

















































