Oleh: Andi Muhammad Jufri
(Praktisi Pembangunan Sosial)
Perang AS & Israel VS Iran yang semakin membuncah, melontarkan harga minyak dan melambungkan harga -harga kebutuhan lain. Rencana membangun berbagai bidang, bisa saja tersendat. Apalagi beban dan lubang utang menganga dan semakin dalam.
Cekikan keuangan negara, membuat pemimpin negeri berpikir keras, memutar otak, mengerut dahi, menghela napas dalam, mengatur ritme jantung berdentum, menahan mata tak nyenyak tidur, pusing tujuh keliling "vertigo" menjangkiti elit negeri.
Biaya dan harga kebutuhan dan layanan di kehidupan rakyat tergerek seok. Ketegangan sosial mengeras. Seiring dentuman rudal mengerikan terdengar dan terlihat di layar kaca. Harapan para orang tua, kiranya dapat secara lancar dan terus menyuapi makanan bergizi bagi anak-anak mereka dengan penuh kasih sayang. Para orang tua juga berharap menyekolahkan anak dengan kegembiraan dan kenyamanan, didukung sarana yang memadai dan didampingi guru yang tulus mengabdi. Para orang tua juga berharap remaja, pemuda, pelajar dan mahasiwa tumbuh dengan kreativitas, menjadi pelopor kebaikan yang terus bergerak meraih masa depan terbaik untuk diri, keluarga dan negerinya. Kekhawatiran menggapai harapan itu terhantui, ditengah situasi kantong kempas kempis. Harapan gejala penyakit pusing tujuh keliling "vertigo" tak mengenai mereka, para orang tua.
Situasi geopolitik di Timur Tengah, telah menganggu rantai pasok berbagai barang penting. Tarik dan harga naik, memberi tekanan pelaku industri. Ketidakstabilan ekonomi global terjadi. Pada saat yang sama, ekonomi dalam negeri tertekan. Kondisi sosial bisa memicu tekanan politik dalam negeri. Terlebih, bila penyakit pusing tujuh keliling merebak, memunculkan vertigo sosial.

















































