Bocah SD 10 Tahun Meninggal karena Buku dan Pulpen Rp10 Ribu, Tamparan Keras Dunia Pendidikan

3 hours ago 3
Aktivis perempuan, Ida N Kusdianti (Foto: Dokumentasi pribadi)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Tragedi meninggalnya YBS (10), murid kelas IV sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), menyisakan duka mendalam sekaligus kritik terhadap arah kebijakan pendidikan nasional.

Bocah tersebut diduga mengakhiri hidupnya lantaran tidak mampu membeli buku dan pena dengan harga kurang dari Rp10 ribu.

Cermin Kegagalan Negara

Aktivis perempuan, Ida N Kusdianti, menyebut peristiwa ini sebagai cermin kegagalan negara dalam menjaga esensi pendidikan sebagai instrumen pembebasan dan pemanusiaan manusia.

“Pendidikan sejatinya instrumen pembebasan dan pemanusiaan atas manusia. Ia bertugas mencerdaskan kehidupan bangsa, membuka jalan mobilitas sosial, serta membentuk watak dan peradaban,” ujar Ida kepada fajar.co.id, Rabu (4/2/2026).

Dikatakan Ida, realitas pendidikan Indonesia hari ini justru bergerak semakin jauh dari cita-cita luhur tersebut.

Sistem pendidikan dinilai semakin rumit, mahal, dan sarat nuansa bisnis, sehingga menjadi beban berat bagi guru, siswa, dan terutama orang tua.

Ida juga menyinggung salah satu persoalan paling nyata, yakni kebijakan pergantian buku paket yang hampir terjadi setiap tahun.

Dengan dalih perubahan kurikulum atau penyesuaian kebijakan, sekolah, baik negeri maupun swasta, mewajibkan orang tua membeli buku baru dengan biaya yang tidak sedikit.

“Totalnya bisa mencapai jutaan rupiah per anak dalam satu tahun ajaran. Ironisnya, pergantian tersebut sering kali tidak berbanding lurus dengan peningkatan kualitas pembelajaran,” tegasnya.

Ia membandingkan kondisi saat ini dengan masa lalu, ketika buku pelajaran dapat digunakan secara turun-temurun.

Menurutnya, meskipun ilmu pengetahuan berkembang, perkembangannya tidak sedemikian cepat hingga mengharuskan penggantian total buku setiap tahun.

“Banyak materi dasar yang tetap relevan dari waktu ke waktu. Seharusnya, penambahan atau pembaruan pengetahuan dapat dilakukan melalui modul tambahan, suplemen materi, atau media digital yang lebih murah dan mudah diakses,” jelas Ida.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

Read Entire Article
Situasi Pemerintah | | | |