Swasembada Energi Jadi Masalah di Masa Mendatang, Akademisi: Perlu Produksi di Negeri Sendiri

11 hours ago 6
Dialog yang membahas swasembada energi di Makassar

FAJAR.CO.ID ,MAKASSAR -- Pembahasan soal Swasembada energi di masa pemerintahan Presiden Republik Indonesia (RI), Prabowo Subianto jadi hal yang menarik. Soal Swasembada energi menjadi pembahasan yang menuai banyak perhatian.

Satu agenda yang berlangsung pada Rabu (11/02) di Kopitiam Hertasning, Makassar, dihadiri langsung oleh Pakar Energi dari Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof Muhammad Bachtiar Nappu, Pakar Ekonomi dari Universitas Muslim Indonesia (UMI), Prof Syamsuri Rahim serta Direktur Lembaga Studi Kebijakan Publik, M. Kafrawy Saenong.

Kehadiran tiga juru bicara ini untuk mengkaji dan membahas persoalan Swasembada energi ini lebih jauh.

Mulai dari Prof Muhammad Bachtiar Nappu mengungkapkan terkait dengan tantangan yang dihadapi.

"Faktanya, konsumsi BBM saat ini jauh melebihi produk domestik. Semakin disedot maka akan semakin habis, suatu saat akan hilang. Definisi swasembada sendiri tidak boleh lagi terjebak pada ketersediaan minyak semata," katanya.

Ia juga menyebut, jika kebutuhan semakin meningkat dan mengungkapkan jika patut meredefinisi swasembada yang mana diversifikasi menjadi kunci.

"Sehingga swasembada harus matang yang bisa diproduksi dalam negeri sendiri. Untuk tujuan ke depannya sendiri adalah mengarah ke era EBT (energi baru dan terbarukan)," paparnya.

Sementara itu, Prof Syamsuri Rahim mengatakan bahwa dengan kebijakan swasembada energi maka mampu mandiri secara ekonomi.

Ia menyampaikan jika Refinery Development Master Plan (RDMP) merupakan program strategis nasional untuk peningkatan kapasitas kilang Pertamina.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

Read Entire Article
Situasi Pemerintah | | | |