Penjual takjil (Ilustrasi/AI)
FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Setiap sore di bulan Ramadhan, suasana Makassar selalu berubah. Jalanan yang biasanya lengang mendadak ramai. Di tepi jalan, depan lorong, hingga halaman rumah warga, lapak-lapak sederhana bermunculan. Meja kecil, termos es, wadah plastik, dan spanduk seadanya menjadi saksi hadirnya para penjual takjil dadakan—warga biasa yang hanya berdagang saat Ramadhan tiba.
Bagi mereka, Ramadhan bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga bulan harapan. Harapan untuk mendapatkan tambahan penghasilan, sekadar menutup kebutuhan rumah tangga, atau menyisihkan sedikit rezeki untuk Lebaran.
Salah satunya adalah Nurhayati (42). Sehari-hari ia adalah ibu rumah tangga. Namun setiap Ramadhan, ia berubah peran menjadi penjual es buah dan gorengan di depan rumahnya. Modalnya tidak besar, hanya beberapa ratus ribu rupiah untuk bahan baku.
“Kalau hari biasa saya tidak jualan. Tapi Ramadhan ini sayang kalau dilewatkan. Lumayan buat tambah-tambah belanja,” katanya sambil menyusun gelas plastik menjelang sore.
Dari Terpaksa Jadi Terbiasa
Banyak penjual takjil dadakan mengaku awalnya berjualan karena terpaksa. Ada yang penghasilannya menurun, ada pula yang hanya mengandalkan pekerjaan harian. Ramadhan menjadi momen untuk mencoba peruntungan, meski dengan peralatan dan pengalaman terbatas.
Rahman (35), pekerja serabutan, mengaku mulai berjualan takjil sejak tiga tahun terakhir. Awalnya ia hanya membantu istrinya membuat jalangkote dan pisang goreng. Kini, setiap sore ia rutin membuka lapak kecil di pinggir jalan.
“Awalnya ragu, takut tidak laku. Tapi ternyata pembeli selalu ada. Apalagi kalau sore-sore banyak orang pulang kerja,” ujarnya.
Dari hari ke hari, mereka belajar memahami selera pembeli. Ada yang menambah variasi menu, ada pula yang memperbaiki rasa agar pelanggan kembali datang keesokan hari.
Takjil, Rezeki yang Tidak Selalu Sama
Berjualan takjil bukan tanpa risiko. Cuaca menjadi faktor utama. Hujan deras bisa membuat pembeli sepi. Sebaliknya, sore yang cerah sering kali membawa rezeki lebih.
“Kalau hujan, kadang banyak sisa. Tapi kalau panas, sebelum magrib kadang sudah habis,” tutur Nurhayati.
Keuntungan pun tidak selalu besar. Ada hari-hari ketika hasil bersih hanya cukup untuk menutup modal. Namun bagi para penjual dadakan, yang terpenting adalah usaha dan keberkahan.
“Tidak harus untung besar. Yang penting ada tambahan, tidak kosong,” kata Rahman.
Persaingan yang Jarang Jadi Masalah
Meski jumlah penjual takjil meningkat drastis saat Ramadhan, persaingan jarang menimbulkan konflik. Para pedagang justru lebih banyak menunjukkan sikap saling menghargai.
Di beberapa titik, penjual bahkan saling berbagi pembeli. Jika satu lapak kehabisan es, pembeli diarahkan ke lapak sebelah. Ada pula yang saling menjaga dagangan ketika salah satu harus salat atau ke toilet.
“Namanya sama-sama cari rezeki Ramadhan. Tidak enak kalau saling sikut,” ujar seorang penjual kolak.
Kebersamaan inilah yang membuat suasana Ramadhan terasa berbeda. Bukan sekadar transaksi jual beli, tetapi juga solidaritas antarwarga.
Pembeli dan Cerita di Baliknya
Bagi pembeli, takjil adalah pelengkap berbuka puasa. Namun tanpa disadari, membeli takjil dari pedagang dadakan juga menjadi bentuk dukungan ekonomi kecil-kecilan.
Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
















































