Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Yandri Susanto. (Hendra Eka/Jawa Pos)
FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Pernyataan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Yandri Susanto, yang menyebut Alfamart dan Indomaret sebaiknya di-stop jika Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih sudah berjalan, menuai kritik.
Menteri Desa Terkesan Ingin Mematikan Usaha Ritel Modern
Mantan Komisioner Ombudsman Republik Indonesia, Alvin Lie, salah satu pihak yang menyampaikan keberatannya.
Ia menganggap pernyataan tersebut terkesan ingin mematikan pelaku usaha ritel modern yang selama ini dinilai telah membuka banyak lapangan kerja.
“Kalau Kopdes Merah Putih memang profesional dan kompetitif, otomatis akan laris,” ujar Alvin dikutip fajar.co.id melalui cuitannya di X (20/2/2026).
Fokus Pikirkan Strategi Memajukan Koperasi
Ia menegaskan, seharusnya Menteri Desa fokus memikirkan strategi memajukan koperasi desa agar mampu bersaing secara sehat.
“Lebih baik Menteri Desa fokus pikirkan bagaimana memajukan Kopdes," sebutnya.
Kata Alvin, mendorong penghentian operasional ritel modern seperti Alfamart dan Indomaret merupakan sesuatu yang keliru. Apalagi yang mengungkapkan hal tersebut merupakan pejabat publik.
"Bukan bagaimana membunuh Alfamart, Indomaret, dan Toko Madura yang sudah terbukti buka lapangan kerja,” tegasnya.
Koperasi Desa Harus Diperkuat Produk dalam Negeri
Alvin juga mendorong agar koperasi desa diperkuat dengan penyaluran produk dalam negeri sehingga bisa berkontribusi nyata terhadap perekonomian nasional.
“Salurkan produk dalam negeri dan jadi berkontribusi terhadap perekonomian nasional,” tambahnya.
Menteri Desa Minta Alfamart-Indomaret Disetop
Sebelumnya, dalam sebuah video yang beredar luas, Yandri Susanto menyampaikan pandangannya terkait dominasi ritel modern.
“Kalau KOPDES itu sudah berjalan, sejatinya Alfamart dan Indomaret di-stop. Tidak perlu lagi malah pakai apa tadi. Saya kira pemerintah harus berpihak, Pak,” kata Yandri dalam video tersebut.
Ia juga mempertanyakan keberpihakan pemerintah jika koperasi desa dibangun, namun ritel modern tetap menjamur.
“Buat apa kita membangun KOPDES tapi Alfamart sama Indomaret atau sejenisnya yang merajalela? Yaitu artinya, ya tidak apple to apple sebenarnya,” tukasnya.
Yandri mengatakan, skala besar dan dominasi ritel modern bisa menjadi ancaman bagi koperasi desa.
“Kalau mereka sudah sangat besar, sangat monopoli selama ini, ya tentu akan menjadi ancaman bagi KOPDES. Saya setuju," Yandri menuturkan.
"Kalau KOPDES jalan, Alfamart cukup sampai di situ, Pak. Sudah 20 ribu lebih Alfamart dan Indomaret. Dan luar biasa merajalelanya,” sambung dia. (Muhsin/fajar)
Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

















































