Pengamat Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran, Dina Sulaeman
FAJAR.CO.ID,JAKARTA -- Pengamat Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran, Dina Sulaeman ikut memberikan komentar terkait sidang perdana, Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP).
Lewat salah satu unggahan di media sosial X pribadinya, Dina Sulaeman menyampaikan komentar sekaligus pernyataannya itu.
Dalam pernyataan ini, ia membagikan beberapa poin penting terkait sidang perdana BoP ini.
“SIDANG PERDANA BoP. Berikut ini utas komentar saya atas sidang perdana BOP (diupdate berkala, ga sekaligus sekarang),” tulisnya dikutip Jumat (20/2).
Poin pertama yang disoroti oleh Dina soal pernyataan dari Duta Besar (Dubes) AS, Mike Waltz yang mengklaim tiga poin penting.
Di antaranya klaim dan solusi masalah-masalah sosial, diantara bantuan makan hingga air minum dan air bersih.
“1/ Ini pernyataan Dubes AS untuk PBB dalam sidang BoP, Mike Waltz. Dia mengklaim:
A. 4.200 truk bantuan per minggu selama 13 pekan berturut-turut
B. kelaparan akut turun dari 30% → 1%
C. Air minum tersedia dua kali lipat,” sebutnya.
“Komen: A. Jika total 13 minggu harus 54.600 truk (berarti 600 truk sehari). Padahal, data PBB, pada fase 20 Nov–7 Des (18 hari) hanya masuk ±2.034 truk. Maka sisa periode (8 Des–19 Feb = 73 hari) harusnya [sesuai klaim Waltz] ada masuk 52.566 truk,” sambugnya.
“Artinya selama 73 hari terakhir itu harus masuk 720 truk per hari. Sama sekali tidak ada laporan publik PBB yang menunjukkan arus 700 truk/hari konsisten selama lebih dari dua bulan. Yang ada justru laporan-laporan betapa sedikitnya bantuan yang masuk karena dihalangi rezim Zionis. Laporan OCHA Des–Feb tetap menyebut adanya kebutuhan yang sangat mendesak serta hambatan distribusi akibat pembatasan,” jelasnya.
Kebutuhan yang Sangat Mendesak
Lebih jauh, Dina Sulaeman juga menyorot terkait perlu adanya bantuan mendesak yang segera masuk ke Gaza.
Hanya saja hal ini masih bisa dikatakan sulit dilakukan karena banyaknya infrastruktur yang rusak serta hambatan-hambatan distribusi lainnya.
“B. Penurunan sebesar itu (dari 30% turun jadi 1 %) dalam waktu singkat, di tengah infrastruktur yang rusak, pembatasan akses bantuan [terbukti dari laporan OCHA tentang kebutuhan yang sangat mendesak serta hambatan distribusi akibat pembatasan] mustahil terjadi,” tuturnya.
“Data dari reliefweb.int menyatakan Gaza naik dari Phase 3 (Serious) → Phase 4 (Critical) → Phase 5 (Extremely Critical / famine threshold) pada pertengahan 2025. Setelah ceasefire memang ada perbaikan, tetapi: Gaza City tetap di Phase 4 (Critical), diperkirakan hingga April 2026. Deir al-Balah & Khan Younis turun ke Phase 3 (Serious) dan diperkirakan tetap di sana,” paparnya.
“IPC Phase 4 (Critical) berarti tingkat malnutrisi akut sangat tinggi, risiko kematian meningkat, sistem pangan belum stabil. IPC Phase 3 (Serious) tetap berarti krisis gizi signifikan, rumah tangga mengalami kesulitan berat memenuhi kebutuhan dasar,” lanjutnya.
“Jika suatu wilayah masih berada di Phase 3 atau Phase 4, maka secara definisi tidak mungkin hanya 1% rumah tangga mengalami kelaparan berat. Secara logika statistik, penurunan dari 30% → 1% berarti hampir seluruh populasi keluar dari kategori kelaparan akut; dan situasi mendekati normal. Cuma orang naif dan tidak update info yang mengiyakan bahwa di Gaza sudah "normal",” sambungnya.
Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

















































