Dino Patti Soroti Dominasi Trump dan Tantangan Besar Board of Peace di Gaza

11 hours ago 4
Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal/(Instagram @dinopattidjalal).

FAJAR.CO.ID, JAKARTA - Mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal, menyoroti secara tajam dominasi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dalam Board of Peace (BoP) yang tengah berupaya mengelola masa transisi di Gaza. Ia menilai proses yang berjalan masih sangat rapuh dan penuh risiko, terutama terkait aspek keamanan dan demiliterisasi di wilayah tersebut.

"BoP sudah mulai bekerja, namun proses ke depan masih rapuh dan penuh risiko. Peran Donald Trump dalam BoP nampak sangat dominan," katanya melalui unggahan di media sosial X pribadinya pada Jumat (20/2).

Risiko dan Kerentanan Proses Perdamaian di Gaza

Dino Patti menegaskan bahwa pembentukan Palestinian Security Force dan International Stabilization Force sudah berjalan, namun tantangan di lapangan masih berat. Ia mengingatkan bahwa kapasitas pasukan keamanan Palestina yang sedang dilatih oleh Yordania dan Mesir masih penuh tanda tanya.

"Saya tidak merasakan empati dari pidato-pidato pihak Amerika terhadap korban jiwa dan penderitaan warga Gaza dalam dua tahun terakhir, bahkan tidak disinggung sama sekali," jelasnya.

Kritik terhadap Aspek Politik dan Administrasi BoP

Lebih lanjut, Dino mengkritik minimnya perhatian terhadap aspek pengembangan politik di Gaza selama masa transisi yang lebih banyak membahas administrasi. Ia juga menyoroti ketidakjelasan tata kelola dana yang dikumpulkan BoP, yang berpotensi menjadi sorotan publik.

"Saya tidak melihat referensi mengenai aspek 'political development' di Gaza dalam masa transisi, umumnya hanya mengenai aspek administrasi. Tatakelola dana yang dikumpulkan BoP masih belum jelas, dan akan banyak disorot," bebernya.

Kejelasan Status Pasukan Perdamaian dan Sikap Indonesia

Dino Patti menekankan perlunya kejelasan dari pemerintah mengenai status pasukan perdamaian Indonesia di Gaza, terutama terkait penggunaan helm biru (blue helmet) yang biasanya dipakai pasukan perdamaian PBB.

"Saya berpandangan perlu ada kejelasan dari Pemerintah apakah pasukan perdamaian Indonesia di Gaza akan menggunakan helmet biru sebagaimana biasanya pasukan perdamaian PBB. Kalau tidak, ini berarti pertama kalinya pasukan perdamaian Indonesia tidak menggunakan blue helmets, dan perlu dijelaskan kepada publik kenapa," jelasnya.

Dia juga mengapresiasi keputusan Presiden Prabowo Subianto yang memilih memberikan kontribusi melalui peran pasukan perdamaian tanpa mengumumkan dana satu miliar dolar AS untuk menjadi anggota permanen BoP.

"Saya apresiasi Presiden Prabowo tidak mengumumkan kontribusi Indonesia sebesar 1 milyar dolar untuk menjadi anggota permanen BoP, karena memang Indonesia tidak perlu berambisi menjadi anggota permanen dan perlu selalu pegang opsi untuk keluar dari BoP kalau terjadi penyelewengan misi BoP. Peran sumbang pasukan penjaga perdamaian sudah cukup," pungkasnya.

Pesan Penting soal Solusi Palestina

Dino juga mencatat bahwa dalam pidato Presiden Prabowo di KTT BoP tidak disebutkan secara eksplisit "two state solution" atau "Palestinian statehood" yang merupakan posisi prinsip Indonesia.

"Dalam BoP, Presiden Trump perlu mendengar penegasan ini secara langsung dari Presiden Prabowo," katanya saat menyinggung pesan titipan ormas-ormas Islam di Indonesia yang dia wakili dalam pertemuan dengan Presiden.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

Read Entire Article
Situasi Pemerintah | | | |