Cerita Mayat Berjalan di Mamasa, Kisah Lama yang Masih Dikenang Warga

2 hours ago 1
Ilustrasi Sandeq.

Oleh: Desy Selviana
(Pustakawan)

Mamasa, Sulawesi Barat, tidak hanya dikenal karena kondisi alamnya yang sejuk dan berada di wilayah pegunungan. Daerah ini juga memiliki cerita lama yang masih dikenal masyarakat hingga sekarang, yaitu kisah tentang “mayat berjalan”.

Cerita tersebut berkembang dalam tradisi lisan masyarakat Mamasa sejak ratusan tahun lalu. Kisah ini berkaitan dengan kebiasaan merantau masyarakat pada masa lampau yang harus menempuh perjalanan jauh melewati hutan dan pegunungan. Dalam perjalanan itu, tidak jarang ada anggota rombongan yang meninggal dunia.

Menurut cerita yang diwariskan secara turun-temurun, ketika seseorang meninggal di perantauan dan kondisi tidak memungkinkan untuk membawa jenazahnya karena medan yang berat, dilakukan ritual tertentu.

Melalui ritual tersebut, jenazah diyakini dapat berjalan sendiri mengikuti rombongan hingga tiba di kampung halaman. Setelah sampai, jenazah kemudian disambut dengan upacara adat sebelum dimakamkan secara layak.

Selain pada manusia, kisah serupa juga diceritakan terjadi pada hewan kurban. Dalam sejumlah cerita, kerbau yang telah disembelih disebut dapat berdiri dan bergerak karena kekuatan ilmu tertentu. Namun cerita-cerita tersebut tetap berada dalam ranah kepercayaan tradisional dan tidak pernah dibuktikan secara ilmiah.

Bagi masyarakat Mamasa, kisah “mayat berjalan” bukan sekadar cerita mistis. Cerita ini mencerminkan kuatnya unsur spiritual dalam kehidupan adat. Hubungan manusia dengan alam dan dunia gaib menjadi bagian dari sistem kepercayaan yang menyatu dalam praktik sosial masyarakat setempat.

Unsur spiritual tersebut juga terlihat dalam berbagai tradisi Mandar lainnya. Dalam pembuatan perahu tradisional sandeq, misalnya, terdapat tahapan ritual sebelum penebangan pohon sebagai bahan baku. Doa dan mantra dibacakan untuk meminta izin kepada penghuni hutan menurut keyakinan masyarakat.

Sandeq sendiri merupakan perahu layar bercadik dengan panjang sekitar tujuh hingga sebelas meter yang dikenal tangguh di laut lepas. Saat ini, sandeq masih dipertahankan melalui perlombaan tahunan yang digelar setiap 17 Agustus di Pantai Manakarra.

Dalam kehidupan pesisir, nelayan Mandar menggunakan rumpon atau roppong sebagai alat bantu penangkapan ikan. Rumpon terdiri dari pelampung, daun kelapa sebagai pemikat ikan, dan pemberat dari batu. Keberadaan rumpon berperan penting dalam aktivitas perikanan, terutama untuk menangkap ikan pelagis.

Di Mamasa, tradisi adat juga terlihat dalam ritual kematian bangsawan. Penyembelihan kerbau belang atau tedong bonga menjadi bagian dari kewajiban adat. Harga kerbau jenis ini dapat mencapai ratusan juta rupiah per ekor. Tradisi tersebut masih dijalankan sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang meninggal.

Warisan budaya lainnya adalah rumah adat Banua Layuk. Rumah panggung ini memiliki tiga bagian utama, yaitu atap, badan, dan kolong. Selain Banua Layuk, terdapat pula Banua Sura, Banua Bolong, Banua Rapa, dan Banua Longkarrin yang menunjukkan perbedaan status sosial penghuninya.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

Read Entire Article
Situasi Pemerintah | | | |