Mahfud MD
FAJAR.CO.ID - Pengalaman tak terlupakan dialami Prof Mahfud MD saat menjabat sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ketika seluruh pengawalan kepadanya ditarik secara tiba-tiba. Kejadian tersebut memicu ketegangan dan langkah tegas dari Mahfud yang merasa pengawalan sebagai pejabat negara ring satu harus tetap dijaga sesuai standar.
Penarikan Mendadak Pengawalan dan Reaksi Mahfud MD
Mahfud MD menjelaskan bahwa selama menjabat, dirinya biasanya mendapatkan pengamanan ketat dengan dua motor di depan dan belakang serta beberapa ajudan dan polisi di sekitar rumah dan pintu masuk. Namun, secara terang-terangan, 12 orang pengawal dan ajudannya ditarik tanpa pemberitahuan.
"Oh, bukan dimusuhin. Terang-terangan tuh. Pengawal dan ajudan saya 12 orang ditarik," katanya saat ditemui Jumat (20/2/2026).
Merasa posisi dan keamanan dirinya sebagai pejabat negara ring satu terancam, Mahfud pun menolak keadaan tersebut dan berusaha melawan kebijakan itu.
"Tapi waktu itu saya ngelawan. Saya ini pejabat negara ring satu, masa gak ada ajudan?" jelasnya.
Upaya Mendapatkan Pengawalan Kembali
Dalam situasi sulit tersebut, Mahfud meminta bantuan kepada Luhut Binsar Pandjaitan yang kemudian memberinya dua anggota Kopassus sebagai pengawal pribadi.
"Saya minta bantuan teman namanya Luhut Pandjaitan, dikasih dua kopasus pengawal saya gitu," bebernya.
Selain itu, Mahfud juga langsung menyampaikan persoalan ini kepada Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dengan niat bahkan untuk menyewa pengawal pribadi menggunakan anggaran yang dimilikinya.
"Lalu saya bilang ke Pak SBY, Pak, saya ini dikirmanilisasi, saya kan harusnya, saya ini kan dikawalin, semua polisi ditarik," katanya.
"Oleh sebab itu, saya mau nyewa bodyguard swasta, saya bilang. Saya kan punya anggaran mau nyewa bodyguard," tambahnya.
Respons Tegas Presiden dan Kapolda Metro Jaya
Respons SBY terhadap keluhannya cukup mengejutkan sekaligus tegas. Presiden menegaskan bahwa pengawalan pejabat ring satu harus tetap terjaga dengan baik.
"Pak SBY kaget tapi juga responsif.. Tidak boleh terjadi itu Pak Mahfud. Pak Mahfud adalah pejabat negara. Ring satu, pejabat pengawalnya harus bagus," pungkasnya.
Sementara itu, kondisi tanpa pengawalan tersebut hanya berlangsung singkat. Pada hari ketiga, Kapolda Metro Jaya saat itu, Pak Wahyono, datang menemui Mahfud untuk menyampaikan permintaan maaf dan menawarkan pengawal terbaik.
"Nah itulah sebabnya baru dua, masuk hari ketiga saya tidak dikawal itu. Datang Kapolda, namanya Pak Wahyono saya jadi ingat. Kapolda Metro Jaya," ujarnya.
Mahfud menirukan ucapan Kapolda saat itu.
"Pak minta maaf Pak, Polri minta maaf Pak. Kenapa? Itu anak-anak nakal pak. Tidak, tidak kami suruh tiba-tiba mundur. Itu bukan urusan saya," katanya menirukan Kapolda.
"Pokoknya bapak sekarang minta pengawal kelas berapapun. Siapapun minta kami kasih yang terbaik. Tapi di MK udah panik pada waktu itu," kuncinya.
(Muhsin/Fajar)
Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
















































