Pelatihan Guru Al-Qur’an Braille dan Digital untuk Tunanetra Dorong Kemandirian dan Dakwah Berkelanjutan

2 hours ago 2
Pelatihan Membaca Alquran Braille.

FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Pelatihan Guru Al-Qur’an Braille dan pelatihan digital bagi tunanetra dibuka secara resmi di Yayasan Pembinaan Tunanetra Indonesia (Yapti) Makassar pada 17 Januari 2026 lalu.

Ini merupakan bagian dari Ekspedisi Dakwah Kawan Netra yang menargetkan peningkatan kemandirian serta keberlanjutan dakwah dalam komunitas difabel netra di Sulawesi Selatan.

Pelatihan sebagai Amal Jariyah dan Pemberdayaan

Dalam sambutannya, Kepala SLB YAPTI Makassar, Pak Subuh, menekankan bahwa pelatihan ini bukan hanya soal keterampilan teknis, melainkan kesinambungan nilai dan amal jariyah. Ia menyatakan, "Yang paling berbobot menurut saya adalah pelatihan Al-Qur’an Braille. Karena ketika kita mengajarkan kepada orang lain, di situlah amal jariyah itu mengalir."

Pak Subuh juga mengenalkan para peserta sebagai alumni hebat yang telah menempuh pendidikan tinggi dan berkiprah hingga tingkat nasional. Menurutnya, kemandirian menjadi aspek utama yang harus dimiliki, bukan sekadar gelar sarjana.

Kawan Netra: Relawan Pendamping, Bukan Objek

Pendiri Yayasan Urunan Kebaikan sekaligus inisiator Kawan Netra, Gusti Mohammad Hamdan Firmanta, menegaskan bahwa Kawan Netra merupakan komunitas relawan yang mendampingi tunanetra, bukan menjadikan mereka objek bantuan. Ia menjelaskan filosofi "urunan" sebagai dasar gerakan sosial yang mengajak semua pihak berkontribusi secara bersama.

"Kami ini lembaga yang mendampingi, bukan lembaga yang menjadikan tunanetra sebagai objek," katanya. Ia juga mengkritik praktik filantropi yang keliru sasaran, seperti pemberian Al-Qur’an Braille yang tidak diimbangi kemampuan membaca, sehingga kitab justru menumpuk di rumah yang sempit.

Pelatihan Berbasis Jejaring Nasional dan Praktik Lapangan

Pelatihan melibatkan Yayasan Raudlatul Makfufin, lembaga pengembang dan percetakan Al-Qur’an Braille di Indonesia, yang turut memastikan bahwa program ini merupakan bagian dari jejaring nasional yang serius. Di sisi lain, pelatihan digital mengajarkan penggunaan gawai, akses perbankan digital, dan aplikasi perkantoran yang selama ini dianggap sulit bagi tunanetra.

Gusti menjelaskan, "Yang paling sulit itu presentasi dan Excel, karena sifatnya visual. Tapi justru di situ kami masuk untuk mendampingi." Pada hari kedua, diskusi memperdalam refleksi tantangan dakwah dan pendidikan inklusif, termasuk praktik penyalahgunaan bantuan yang ditemukan di lapangan.

Metode Dakwah Berlapis dan Kemandirian Komunitas

Pelatihan mendorong peserta memulai dari tingkat dasar seperti Iqra dan membangun kelas kecil di sekitar rumah, walaupun hanya dengan dua atau tiga murid. Gusti menegaskan, "Walaupun cuma dua murid, tidak apa-apa. Allah Maha Mencatat setiap kebaikan."

Pendekatan ini menekankan etika dakwah, keberlanjutan gerakan, dan kemandirian komunitas difabel netra agar tidak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi juga pelaku aktif dalam mengajarkan ilmu.

Praktik Mengajar dan Harapan Peserta

Pada hari terakhir pelatihan, 20 Januari 2026, peserta diberi kesempatan mempraktikkan kemampuan mengajar Al-Qur’an Braille dan melakukan evaluasi bersama. Heriansyah, peserta terbaik pelatihan Al-Qur’an Braille, berbagi perspektif baru yang didapat selama pelatihan.

"Banyak sekali pelajaran yang diambil. Banyak hal yang sebelumnya mungkin tidak diperhatikan atau bahkan luput dari perhatian karena dianggap remeh atau kecil. Tapi dengan adanya kegiatan ini, saya jadi tercerahkan bahwa ternyata hal-hal yang selama ini kita anggap kecil justru memiliki manfaat besar," katanya.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

Read Entire Article
Situasi Pemerintah | | | |