Kritik Impor 35 Ribu Mobil dari India untuk Koperasi Merah Putih, Herwin Sudikta Soroti Dampak pada Industri Nasional

3 hours ago 6

FAJAR.CO.ID - Proyek pengadaan 35.000 unit kendaraan niaga dari India untuk Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) menuai kritik tajam di tengah tekanan fiskal dan utang negara yang membengkak. Herwin Sudikta, pegiat media sosial yang dikenal vokal mengkritik kebijakan pemerintah, mempertanyakan konsistensi proyek impor tersebut dengan narasi kemandirian ekonomi yang selama ini digaungkan pemerintah.

"Utang negara naik. APBN makin berat. Tapi kita malah impor 35.000 mobil dari India buat logistik Merah Putih. (Rencananya 105.000 unit)," katanya kepada fajar.co.id, Kamis (19/2/2026).

Herwin Soroti Inkonsekuensi Kebijakan Mobil Nasional

Herwin menegaskan bahwa angka 35.000 unit bukan jumlah kecil dan seharusnya menjadi stimulus besar bagi industri otomotif nasional. "35.000 unit itu bukan angka kecil. Itu stimulus besar. Tapi stimulusnya dikasih ke industri luar," bebernya.

Lebih lanjut, ia menyindir pemerintah yang tengah mengkampanyekan mobil nasional melalui Prabowo Subianto. "Katanya sih demi kemandirian. Lho? Bukannya Prabowo Subianto lagi gembar-gembor mobil nasional?" ujarnya.

Herwin juga menyoroti peluang proyek logistik berskala besar ini sebagai percontohan produksi dalam negeri jika pemerintah benar-benar serius membangun mobil nasional. "Kalau serius mau mobil nasional, kenapa pasar logistik nasional nggak dijadikan proyek percontohan produksi dalam negeri?" jelasnya.

Tekanan Fiskal dan Penggunaan Utang yang Tepat

Dalam konteks fiskal, Herwin mengingatkan bahwa dengan utang yang terus membengkak, belanja negara semestinya diarahkan ke sektor produktif yang memberikan efek berganda, seperti transfer teknologi dan penguatan manufaktur lokal, bukan sekadar impor massal. "Transfer teknologi, penguatan manufaktur lokal, efek pengganda ke tenaga kerja, bukan sekadar impor massal lalu selesai," terangnya.

Ia menegaskan bahwa utang bukan hal yang tabu dalam kebijakan fiskal, namun orientasi penggunaannya yang menjadi persoalan. "Utang itu bukan haram. Tapi utang untuk konsumsi beda dengan utang untuk produksi," pungkasnya.

Herwin kemudian menutup kritiknya dengan pertanyaan yang sedang ramai diperbincangkan di ruang publik, "Ironi? Atau memang arah ekonominya konsumtif?"

Penjelasan dari Pihak Pengadaan dan Produsen

Sebelumnya, Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota, membenarkan pengadaan kendaraan tersebut dan menyebut sebagian unit dalam kondisi utuh telah tiba di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa kendaraan ini akan difungsikan sebagai penopang operasional koperasi untuk memperkuat rantai pasok pangan hingga tingkat desa.

"Armada kendaraan ini diposisikan sebagai tulang punggung distribusi logistik desa," ujarnya dalam siaran pers, Selasa (17/2/2026).

Agrinas memilih produsen India karena kemampuan memasok dalam jumlah besar, harga yang kompetitif, serta kesiapan unit dalam waktu cepat sesuai kebutuhan program nasional. Pemerintah menargetkan pembentukan sekitar 80.000 koperasi di seluruh Indonesia, dengan 30.000 unit kendaraan ditargetkan rampung hingga pertengahan 2026.

Dari sisi pemasok, CEO Divisi Otomotif Mahindra dan Mahindra, Nalinikanth Gollagunta, menilai kehadiran Scorpio Pik Up dalam proyek koperasi tersebut akan memperkuat fondasi logistik yang menghubungkan petani ke pasar secara lebih efisien.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

Read Entire Article
Situasi Pemerintah | | | |