Iolustrasi sahur
FAJAR.CO.ID,JAKARTA — Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau kegiatan membangunkan sahur tak berlebihan. Tapi saja.
Itu diungkapkan Wakil Ketua MUI Cholil Nafis. Dia mendukung aktivitas tersebut, walau dengan sejumlah catatan.
“Saya imbau kepada masyarakat untuk terus menggunakan budaya saling membangunkan sahur," kata Cholil kepada jurnalis, Selasa (17/2/2026).
Dia memberi gambaran. Seperti di kota besar dengan kepadatan penduduk perlu hati-hati, karena tak semua melaksanakan puasa.
“Tetapi untuk di kota-kota besar, barangkali perlu dipertimbangkan dengan kepadatan penduduk yang tidak semuanya berpuasa,” ujarnya.
Cholil juga mengatensi penggunaan pengeras suara. Agar digunakan secara bijak.
"Oleh karena itu, bangunkanlah puasa jelang-jelang sahur dan tidak perlu terus speaker-nya senyaring-nyaringnya mengganggu yang lain. Bangunkan seperlunya, penggunaan speaker, pengeras suara, pada waktu yang dibutuhkan," jelasnya.
Lebih detail, dia bahkan menyebut rentang waktunya. Tidak terlalu cepat, tapi juga tak lambat.
"Seperti mulai jam 03.30 WIB untuk dibangunkan bermassa. Kemudian setelah itu nanti hanya 04.00 WIB, 04.30 WIB. Tetapi tidak harus terus-menerus dengan speaker yang kencang, mengganggu yang lain," terangnya.
Cholil juga mengimbau cara membangunkan sahur harus memperhatikan kesesuaian ajaran Islam. Dia mengatakan budaya membangunkan sahur dengan cara berkeliling tak boleh sampai mengganggu orang lain.
"Kemudian, berkenaan dengan orang yang jalan, membangunkan, perlu juga memperhatikan tentang kesesuaian dengan ajaran Islam, tidak boleh mengganggu orang lain,” imbuhnya.
Dia memberi contoh seperti penggunaan pakaian.
“Budaya yang digunakan pun jangan sampai keluar dari koridor Islam, seperti laki-laki berpakaian perempuan, perempuan berpakaian laki, tidak sebaiknya. Jadi tetap mengikuti pada syariat dan akhlak Islam," tambahnya.
(Arya/Fajar)
Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

















































