Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto.
FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto, menjadi korban serangan teror digital dan ancaman serius setelah menyuarakan kritik tajam terhadap pemerintah terkait tragedi anak bunuh diri di NTT.
Serangan ini tidak hanya menimpa dirinya secara pribadi, tetapi juga merambah ke ranah keluarganya, termasuk intimidasi yang diterima oleh ibu kandung Tiyo melalui pesan singkat pada jam-jam rawan.
Serangan Digital dan Ancaman Nyata Mengintai Aktivis Mahasiswa
Pola serangan yang diterima oleh Tiyo dan anggota BEM UGM lainnya terbilang sistematis dan masif. Tiyo dituduh melakukan manipulasi dana Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP Kuliah), tuduhan yang ia bantah sebagai sangat tidak berdasar.
Selain itu, upaya pembunuhan karakter juga dilakukan dengan menyebarkan isu moral negatif, termasuk tudingan menyewa ladies companion (LC) untuk menjatuhkan kredibilitasnya sebagai pimpinan mahasiswa.
"Pesan pada ibu saya masuk pada tengah malam di waktu yang rentan. Masuk dua kali soal saya nilep uang," kata Tiyo Rabu (18/2/2026).
Lebih lanjut, sejak 9 Februari, Tiyo menerima ancaman serius berupa penculikan hingga pembunuhan yang dikirim melalui nomor asing berkode negara Inggris (+44).
Teror ini kini meluas ke platform TikTok dan Instagram dengan intensitas yang meningkat. Bahkan, ia mengaku sempat dibuntuti oleh orang tidak dikenal saat berada di sebuah kedai.
"Ancaman pembunuhan sampai ke saya sebagai informasi, tapi kami merasakan teror luar biasa karena tidak bisa mengonfirmasi langsung karena anonim," jelas Tiyo.
Pemerintah Tegaskan Pentingnya Etika dalam Menyampaikan Kritik
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi, yang merupakan alumnus dan pernah aktif di BEM UGM, memberikan tanggapan terkait kondisi yang dialami Tiyo. Ia menegaskan bahwa pemerintah menghormati hak setiap warga negara untuk menyampaikan kritik sebagai bagian dari kehidupan bernegara.
"Menyampaikan kritik atau masukan itu selalu kami sampaikan bahwa itu sah-sah saja, gitu. Nah, tetapi tentu kita mengimbau kepada semuanya, ya, untuk menyampaikan segala sesuatu itu dengan penuh tanggung jawab juga, kemudian juga mengedepankan etika, adab, adab-adab ketimuran, gitu loh," kata Prasetyo di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (18/2/2026).
Prasetyo menegaskan bahwa pemilihan diksi dan cara berkomunikasi menjadi hal yang krusial agar kritik yang disampaikan dapat menjadi bahan pembelajaran yang baik bagi publik.
Ia juga menyarankan agar penggunaan kata-kata yang kurang sopan dihindari oleh siapa pun demi menjaga etika dan adab dalam bermasyarakat. (bs-sam/fajar)
Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

















































