Tradisi Ramadan Sulsel Hidupkan Kebersamaan dan Warisan Budaya di Tengah Modernisasi

3 hours ago 4
Pawai Obor (Ilustrasi/Pemprov Sulsel)

FAJAR.CO.ID - Di tengah derasnya arus modernisasi, tradisi Ramadhan khas Sulawesi Selatan tetap hidup dan menjadi ruang pertemuan antara iman, budaya, dan kebersamaan yang erat di masyarakat.

Kebiasaan turun-temurun ini tidak hanya mempertahankan nilai spiritual, tetapi juga menghidupkan denyut kehidupan kampung yang kian terasa selama bulan suci.

Ritual Mappacci dan Makna Membersihkan Hati

Bagi masyarakat Bugis-Makassar, Ramadhan diawali dengan ritual Mappacci, sebuah tradisi sederhana yang sarat makna. Mappacci dimaknai sebagai upaya membersihkan diri secara lahir dan batin, sekaligus menata niat sebelum memasuki bulan ibadah.

Meski kini tidak selalu digelar secara seremonial, spirit dari tradisi ini masih hidup kuat di lingkungan keluarga.

Amminro dan Peran Masjid dalam Kehidupan Sosial

Menjelang magrib, tradisi amminro buka puasa menjadi momentum penting dalam menjaga hubungan sosial antarwarga. Warga kampung berlalu lalang membawa hidangan berbuka, yang bukan sekadar untuk mengenyangkan, tetapi juga menyampaikan perhatian dan kebersamaan.

Lebih lanjut, Ramadhan mengembalikan peran masjid sebagai pusat aktivitas warga. Dari sore hingga malam, masjid dipenuhi jamaah yang mengaji, tadarus, atau sekadar menunggu waktu berbuka. Suasana ini terasa lebih kental terutama di daerah pinggiran hingga pedesaan.

Pawai Obor dan Sahur Keliling, Tradisi yang Tetap Dijaga

Di malam-malam tertentu, pawai obor menjadi penanda Ramadhan yang selalu dinanti oleh anak-anak kampung. Cahaya obor menerangi jalan-jalan kampung, menciptakan atmosfer khas yang hangat dan penuh semangat.

Sementara itu, tradisi sahur keliling tetap dijaga oleh para pemuda desa. Kendati di kota besar seperti Makassar kebiasaan ini mulai tergeser oleh alarm gawai, para pemuda desa masih setia melestarikan tradisi ini sebagai bagian dari identitas budaya.

Hidangan Tradisional sebagai Bagian Memori Kolektif

Tak lengkap rasanya menyambut Ramadhan di Sulsel tanpa sajian khas seperti barongko, burasa, songkolo, dan es pisang ijo. Hidangan ini bukan hanya menu berbuka puasa, tetapi juga bagian dari memori kolektif yang mengikat masyarakat dalam tradisi dan kebersamaan.

Warisan Tradisi yang Terus Dijaga

Katanya, tradisi Ramadhan di Sulawesi Selatan tetap bertahan karena diwariskan dari rumah ke rumah, dari orang tua ke anak-anak. Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai kebersamaan dan spiritualitas masih menjadi fondasi kuat dalam kehidupan masyarakat Sulsel meski zaman terus berubah.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

Read Entire Article
Situasi Pemerintah | | | |