Oleh: Muliadi Saleh — Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
Puasa Ramadan sesungguhnya tidak dimulai dari terbitnya fajar, melainkan dari denyut paling dalam di ruang hati. Niat. Ia tak terlihat, tak terdengar, tetapi menentukan makna seluruh ibadah. Dalam tradisi Islam, pesan terkenal dari Rasulullah SAW, innamal a‘malu binniyat. Setiap amal bergantung pada niatnya. Hadis ini menjadi fondasi etik sekaligus spiritual dalam praktik ibadah, termasuk puasa Ramadan.
Niat dalam Perspektif Agama
Dalam fiqh, niat adalah syarat sah puasa. Tanpa niat, lapar hanya menjadi pengalaman biologis, bukan ibadah. Niat menempatkan tindakan dalam orientasi ilahiah bahwa makan yang ditahan berubah menjadi ibadah, dan waktu yang dijaga menjadi pengabdian.
Agama melihat niat bukan sekadar ucapan lisan. Ia kesadaran batin dan arah hati. Karena itu ulama klasik menekankan bahwa niat terbaik lahir dari kesadaran paling dalam, bukan sekadar rutinitas. Puasa pun menjadi latihan kesadaran spiritual yakni menahan diri bukan karena takut manusia, melainkan karena kesadaran akan Tuhan.
Sains Membaca Niat
Ilmu pengetahuan modern memandang niat sebagai proses kognitif-afektif: perpaduan motivasi, kesadaran, dan tujuan. Dalam psikologi, niat adalah determinan utama perilaku. Teori planned behavior menjelaskan bahwa tindakan manusia dipengaruhi oleh niat yang dibentuk oleh keyakinan, norma sosial, dan kontrol diri.
Neurosains bahkan menunjukkan bahwa sebelum tindakan dilakukan, otak telah memproses keputusan secara halus. Artinya, niat adalah fase transisi antara pikiran dan tindakan. Puasa Ramadan, dalam kerangka ini, menjadi latihan regulasi diri yang kuat: seseorang mengelola dorongan biologis melalui tujuan spiritual.
Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
















































